Bertemu Klien Kami

Bertemu dengan beberapa dari klien kami

Hingga Juni 2010 TLM memiliki 21,106 klien yang memperoleh manfaat dari berbagai produk dan program yang kami tawarkan. Di bawah ini anda akan melihat profil dari beberapa klien.

TLM bermitra dengan Kiva.org, suatu pemberi pinjaman mikro berbasis internet yang memberikan pendanaan dengan biaya rendah bagi lembaga-lembaga keuangan mikro dengan memungkinkan pengguna web untuk menelusuri profil pengusaha secara online dan memberi pinjaman secara langsung kepada mereka.

Anda dapat melihat klien TLM yang telah didanai Kiva di sini

Untuk melihat semua klien TLM yang sekarang sedang membutuhkan dana di Kiva klik di sini

ALBINA ABONG

Albina Abong

Albina, 35 tahu, menikah dengan Yoseph, 39 tahun. Mereka memiliki 5 anak, 4 diantaranya sementara sekolah dan seorang bayi yang berusia 6 bulan. Kedua suami istri ini mengalami cacat bawaan sejak lahir. Walaupun mengalami kondisi demikian, Albina dan suaminya adalah pekerja keras yang memiliki usaha demi menopang kebutuhan hidup keluarga mereka.


Albina dan Yoseph memiliki usaha menjahit. Yoseph memiliki kios menjahit di Pasar Lama Maumere. Namun setelah mereka menikah dan memiliki anak, Albina dan suaminya menyadari bahwa kebutuhan untuk pendidikan anak-anak mereka adalah hal yang penting. Usaha yang dijalankan sendiri oleh Yoseph tidak dapat sepenuhnya mencukupi kebutuhan tersebut. Albina kemudian belajar menjahit dari suaminya dengan tujuan untuk membantu suami membuka usaha yang sama di rumah tempat mereka tinggal. Dengan bekal keterampilan tersebut, Albina kemudian juga memulai usahanya dan terkadang menerima order dari suaminya apabila terdapat kelebihan permintaan di kios jahit Yoseph.


Albina mengajukan pinjaman sebesar IDR 1,000,000 melalui KUM. Pinjaman tersebut dipergunakan untuk membeli mesin obras yang baru untuk membantu Albina menyelesaikan pesanan yang semakin banyak. Kini penghasilan Albina mencapai IDR 1,500,000-2,000,000.

 

 

ALOSIA PIGA ROHI

Alosia Piga Rohi

Alosia Piga Rohi, wanita 63 tahun, sehari-hari di kenal dan di panggil dengan nama Ma Migu. Menikah dengan Lazarus Ndjaramara, 69 tahun, seorang petani. Dari pernikahan, mereka memiliki dua anak masing-masing bernama Renold, 30 tahun dan Hana, 24 tahun. Renold dan Hana sama-sama hanya menamatkan SMA. Renold bekerja sebagai tukang bangunan dan Hana membantu pekerjaan Ma Migu di pasar.

Ma Migu memiliki usaha mol kelapa yang berlokasi di Pasar Inpres Waingapu. Usaha tersebut telah dijalankan selama 20 tahun, bahkan sebelum pasar tersebut didirikan. Usaha mol kelapa ini telah menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pekerjaan suaminya sebagai petani, hanya dapat memberikan penghasilan tambahan pada saat panen yang berlangsung, 2 hingga 3 kali setiap tahunnya. Hasil pertanian tersebut juga tidak menghasilkan banyak karena lahan mereka sangat kecil. Di musim kemarau, Lazarus terkadang juga memanfaatkan lahan yang dimilikinya untuk menanam berbagai tanaman yang tahan terhadap panas matahari seperti ubi-ubian dan kacang hijau. Apabila mendapatkan hasil, Ma Migu sering menjual juga hasil tersebut di lapak mol kelapa miliknya.

Rumah Ma Migu terletak di Kambaniru yang berjarak 5 kilometer dari Pasar Inpres Waingapu. Setiap pagi jam 5 subuh Ma Migu berjalan kaki menuju pasar untuk membuka usahanya hingga jam 3 sore. Dalam sehari Ma Migu mendapatkan penghasilan sebesar IDR 75,000 dan kebanyakan dari penghasilan tersebut hanya cukup untuk kebutuhan makan dan minum. Alosia with her daughter

Hal tersebut yang menjadi alasan bagi Ma Migu hanya sanggup menyekolahkan kedua anaknya hingga bangku SMA. Ma Migu menyadari bahwa pendidikan adalah hal penting bagi masa depan anak-anaknya, namun kondisi keuangan yang Ma Migu dan Lazarus alami tidak memungkinkan baginya untuk memberi kesempatan bagi anak-anaknya untuk kuliah. Namun Ma Migu tetap optimis dan menaruh harapan agar apabila anak-anaknya mampu bekerja keras dan mau berjuang hidup seperti dirinya dan Lazarus maka anak-anak mereka kelak mampu memiliki kesempatan tersebut.

Di usia Ma Migu yang sudah tua, Ma Migu berpikir bahwa tidak cukup baginya dan suami hanya mewariskan usaha mol kelapa yang mereka miliki terutama untuk Hana yang belum bekerja. Ma Migu ingin mengembangkan usahanya agar kelak Hana dapat belajar dan memiliki asset usaha lain yang lebih banyak. Ma Migu ingin memiliki kios yang juga menjual kebutuhan sehari-hari namun selalu terkendala dengan modal.

Dalam bulan Februari 2102, Ma Migu menerima pinjaman sebesar IDR 750,000. yang kini dipergunakannya untuk menjual sayur-sayuran, sirih pinang dan barang-barang kecil kebutuhan rumah tangga seperti sabun, shampoo dan rokok. Ma Migu berharap usaha dan pinjaman ini adalah awal bagi Ma Migu dan juga Hana untuk berkembang dan memiliki masa depan lebih baik.

 

SUWONO

Apner

Suwono adalah pria berusia 3 tahun yang menikah dengan Asiyah, wanita berusia 36 tahun. Mereka dikaruniai oleh 3 orang anak: Muhammad, 6, kelas 1 SD; Firas, 4, and Nirmala, 1. Suwono menjual jajanan seperti, donat, tahu goreng, pisang goreng, roti, dll. dan minuman dingin instan seperti susu, jus, jus orange and “es cendol” (sejenis minuman tradisional yang terbuat ari es, gula palm cair, butiran adonan tepung beras/ cendol and santan).

Dia sudah bergabung dalam bisnis ini sejak 1995. Dia menjalankan bisnisnya di depan rumahnya dari jam 6 pagi sampai 10 malam. banyak pelanggannya adalah anak SMA dan siswa kejuruan karena tempat tinggalnya berdekatan dengan sekolah itu.

Suwono ingin menambah kue seperti kue bolu dan tempe goreng dan juga minuman lainnya. Itu sebabnya, Suwono mencari pinjaman sebesar Rp. 3,000,000 dari TLM untuk melaksanakan rencananya.